Sunday, 17 April 2011

Surat Wasiat Charlie Chaplin kepada Putrinya

Resapi, hayati, dan baca pelan-pelan, kau akan mengerti betapa kejamnya hidup ini, tapi dibalik itu pasti ada beberapa bantuan yang akan menolong, posting-an ini didedikasikan atas 200tahun hari lahir Charlie Chaplin, seniman jalanan yang berhasil menjadi seniman teater, cek dis aut !

Surat Wasiat Charlie Chaplin kepada Putrinya


(Ringkasan surat wasiat Charlie Chaplin kepada putrinya Geraldine Chaplin)

Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah... aku tahu ini bahwa dalam kehengingan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar

Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah. Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggaan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa. Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.

Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku. Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London. Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya. Aku juga merasakan bahwa uang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.

Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu. Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.

Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: "Aku juga bagian dari mereka". Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu. Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu. Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu. Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.

Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu. Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan' ini dalam menipu.....

Geralding putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain. Dan aku akhiri suratku ini dengan;

"Jadilah manusia, suci dan satu hati; karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribukali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan".



Ya.. begitulah adanya :) Percayalah
read more “Surat Wasiat Charlie Chaplin kepada Putrinya”

Jogja

my poem which i read when i join poem competition for English literature anniversary, when i'm the only man who stand up in front of, and all of the boy classmate going somewhere, what a great pain.. feeling little bit nervous because everyone using back-sound and i just stand using Jogja's clothes and read the poems, what a great tragedy, check this out dude ! :D

Jogja


One night in a small crowd
Many voices from everywhere
The people rejoiced every night
Smell of ginger can be kissed

Old man is also taking a break
Joking with his wife
fried bananas and sweet tea
Sweet moments hard to forget

Few panoramas on the town hall
Many horses lined up in the suburbs
not least against the wind
Prepare to fight in the night


Slightly damaged my dear jogja
No treatment is widely used
Slightly damaged my dear jogja
Utilized without rehabilitation


Now you're getting old
Young people leaving you
Archaeologists began lazily researching
Slightly damaged my dear jogja


Credit : Chris Kurniawan

*Cheers :)



read more “Jogja”

Ke Jakarta aku, kan kembali

Amsterdam, 20 Desember 1987
Dingin menusuk tulangku, merasuk ke persendian dalam nadiku, aku berharap adikku yang masih kelas 5 SD dapat kesini dan merasakan indahnya pagi ini di Amsterdam, mataku tertuju pada surat baru yang ada di mailbox depan apartemen, tak salah ternyata dari Kasih, kekasih ku yang ada di jakarta selatan, kami memang suka berbalas surat.

Voorschoten, 3 Juli 1988
Hari ini adalah hari terakhirku di Amsterdam, hari dimana aku harus melaju ke 1 negara lagi di Asia, Inilah resiko-ku sebagai news hunter, berpergian tanpa henti sampai harus melupakan kekasihku, untuk bulan ini, tak ada 1 surat pun melayang ke mailbox apartemen, ahh sudah lah mungkin dia lupa.

Seoul, 5 Agustus 1989
Sekali lagi aku mengirimkan surat tak berbalas kepada Kasih, sudah 5 surat banyaknya, tak satupun dibalasnya, hanya 1 mau-ku, ingin tahu keadaan si pemilik senyuman buah cherry yang aku dambakan itu.

Gwangmyeong. Seoul, 16 September 1989
Pagi-pagi buta aku dibangunkan oleh penjaga apartemen, dia teriak kepadaku “seonsengnim, Indonesia euro pyeonji ga isseumnida” yang berarti Ada surat datang dari Indonesia, Aku membuka surat itu dan sedikit tersenyum, setelah membaca sampai habis, senyum diwajahku sedikit demi sedikit pudar, itu dari Kasih, Kasih dijodohkan dengan seseorang. Aku segera membalas dengan telegram, dengan kata-kata “Ke Jakarta aku koma kan kembali titik”.

Lebak bulus. Jakarta, 29 September 1989
Tak habis fikir aku pulang saat dia dinikahkan, aku berlari tanpa arah, hilang sudah semua angan bersama si pemilik senyuman buah cherry itu, dan lebih tak habis fikir lagi dia menikah dengan sahabat ayahku, bajingan yang memiliki 2 istri itu masih mengambil hak-ku, aku cuma bisa pasrah melihat dia menangis, ternyata tak semua cerita berakhir bahagia.

(aku mendedikasikan untuk Ibu ku, dan semua Ibu yang bisa menangis dikala hujan, "Tenanglah bu !, masih ada hari esok") :)

created by "ME"
read more “Ke Jakarta aku, kan kembali”

Lelaki Bahagia (a man with happiness)

1975. Surabaya, pagi terik menyengatku, 6 KM lagi, gerak jalan, sungguh hal yang paling bisa di banggakan waktu itu, untuk kejuaraan nasional, Aku rela berlecet dan berpanas untuk 1 tujuan, membuat SMA ku bangga, Ahh.. lelaki itu bahdim namanya, aku tidak mengerti apa yang ada didalam fikirannya, dia bukan saudaraku, kekasihku pun bukan, atau ada keterikatan keluarga pun tidak ada, tapi dia sahabatku, ya.. dia orang yang paling mengerti aku, selagi waktu aku berlatih bergerak jalan, apabila ada yang berhenti beberapa detik saja pasti formasi sudah berantakan, ketika itu pada siang hari aku sedang berlatih, 20 KM untuk hari ini nonstop, aku pun belum sarapan dan tidak sempat karena dimulai pada jam 4 pagi buta dikala ayam masih tertidur pulas, namun bahdim, di kilometer ke 8 dia mencuri-curi memberikanku minuman yang berupa air teh di taruh di plastik (karena belum beredar air minum kemasan) dan buah wortel agar menambah staminaku, tidak habis fikir, seorang lelaki yang bersedia menyediakan minuman dan sudah bersiap di suatu tempat untuk memberikannya pada waktu yang tepat, sunggu aku benar-benar tak habis fikir, apa yang benar-benar ada di benaknya, apa ada maksud lain yang tersembunyi di balik semua itu? entahlah.. hanya dia yang benar-benar perhatian. Lalu ke'esokkan harinya, aku kembali latihan tapi dimulai pada jam 9 pagi, benar-benar panas terik aku rasakan, 18 KM tersisa, benar-benar sudah tidak ada tenaga, namun di depan aku melihat sosok tinggi memanggilku dengan senyumnya yang menyeringai, dia berteriak lari dengan plastik hitam berisi air teh dan buah tomat, aku tersenyum, dia seraya berkata dengan aksen jawanya yang kental, "Ayo minum cepet!!, nanti ketahuan pelatih!" seperti biasa dia memberiku bekal minuman dan buah dan aku meminumnya dengan buru-buru, sudah 2 minggu dia selalu memberiku minuman dan buah di tengah jalan, aku bersyukur mempunyai sahabat seperti dia, aku terus bertanya pada diriku sendiri, ada maksud apa di balik semua ini, sampai dia berjanji, di kejuaraan nanti dia yang akan mendampingi ku selalu memberi support (karena biasanya seorang lelaki memberikan support dan minuman kepada kekasihnya saat berlomba) , dia selalu berjanji dan terus berjanji, aku pun meng-iyakan nya

Pada suatu sore, dia bermain kerumahku sambil mendengar lagu lawas karangan Rita effendi, memang pada dasarnya mood ku sedang tidak bagus karena ayahku, aku pun mengusirnya dengan alasan aku ingin pergi kesuatu tempat, dia pun berkata "sebentar dulu yaa, sebentar lagi saja, aku masih ingin disini, lagunya belum habis, nanti pasti aku akan pulang", lalu memang aku yang sudah sangat kesal akhirnya aku menyuruhnya pulang, dan dia pun pulang sambil tertunduk. 2 hari sebelum kejuaraan, aku mendapat kabar sangat buruk dan benar-benar kaget, "BAHDIM WAFAT!!", aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, orang yang benar-benar sudah seperti saudaraku sendiri hilang begitu saja, begitu mudah dan begitu cepat, aku diceritakan kronologisnya oleh ibu nya, beliau bercerita katanya setelah berhujan-hujanan sambil bermain bola volly dia merasakan sakit perut yang hebat dan tiba-tiba hening begitu saja, ya.. begitu cepat dan hening, aku melihat badan tak bernyawa itu seraya tersenyum bahagia, orang yang bukan menjadi siapa-siapa untukku dan aku terlambat menyadari adanya suatu rasa yang tertinggal, aku menyia-nyiakan orang yang benar-benar tulus menyayangiku.

Tiba waktunya, kejuaraan pun akhirnya sudah di depan mata, semua orang berbahagia dan hanya aku yang mngingat suatu duka, aku melihat banyak lelaki memberi support penuh dan memberikan minuman kepada kekasihnya, dan kini apa yang aku dapat, seseorang yang memberiku semangat tambahan kini sudah berlari dengan bahagia di suatu tempat yang jauh, "ya... Aku juga sayang padamu", mungkin itu kata yang dia tunggu dari ucapanku yang mungkin bagiku hanya hal yang sepele, dia mengajarkanku bagaimana menggunakan parasut cadangan saat parasut utama gagal terbuka, dia sisik yang tulus untukku, ya.. dia sahabatku.. Bahdim.




Inspired by a true story, thanks mom to share this story to me :)
this story was dedicate to you mom.


Property of Chris Kurniawan
read more “Lelaki Bahagia (a man with happiness)”

Newbie oh newbie

Setelah celingak-celinguk ga jelas akhirnya bikin blog juga (kenapa ga dari SMP aja biar postingan nya banyak dan keren) , ya.. padahal sudah banyak sekali social network yang sudah saya daftarkan, bahkan tumblr sekalipun, tapi kenapa ga bikin blog? itu lah yang masih menjadi teka-teki buat saya pribadi. anak yang terlahir dari rahim manusia ini bernama Chris kurniawan, anak yang cerdas, santun dan ceria, ya itulah aku dan ini-lah awal dari segala awal dimulai :)
read more “Newbie oh newbie”