Sunday, 17 April 2011

Lelaki Bahagia (a man with happiness)

1975. Surabaya, pagi terik menyengatku, 6 KM lagi, gerak jalan, sungguh hal yang paling bisa di banggakan waktu itu, untuk kejuaraan nasional, Aku rela berlecet dan berpanas untuk 1 tujuan, membuat SMA ku bangga, Ahh.. lelaki itu bahdim namanya, aku tidak mengerti apa yang ada didalam fikirannya, dia bukan saudaraku, kekasihku pun bukan, atau ada keterikatan keluarga pun tidak ada, tapi dia sahabatku, ya.. dia orang yang paling mengerti aku, selagi waktu aku berlatih bergerak jalan, apabila ada yang berhenti beberapa detik saja pasti formasi sudah berantakan, ketika itu pada siang hari aku sedang berlatih, 20 KM untuk hari ini nonstop, aku pun belum sarapan dan tidak sempat karena dimulai pada jam 4 pagi buta dikala ayam masih tertidur pulas, namun bahdim, di kilometer ke 8 dia mencuri-curi memberikanku minuman yang berupa air teh di taruh di plastik (karena belum beredar air minum kemasan) dan buah wortel agar menambah staminaku, tidak habis fikir, seorang lelaki yang bersedia menyediakan minuman dan sudah bersiap di suatu tempat untuk memberikannya pada waktu yang tepat, sunggu aku benar-benar tak habis fikir, apa yang benar-benar ada di benaknya, apa ada maksud lain yang tersembunyi di balik semua itu? entahlah.. hanya dia yang benar-benar perhatian. Lalu ke'esokkan harinya, aku kembali latihan tapi dimulai pada jam 9 pagi, benar-benar panas terik aku rasakan, 18 KM tersisa, benar-benar sudah tidak ada tenaga, namun di depan aku melihat sosok tinggi memanggilku dengan senyumnya yang menyeringai, dia berteriak lari dengan plastik hitam berisi air teh dan buah tomat, aku tersenyum, dia seraya berkata dengan aksen jawanya yang kental, "Ayo minum cepet!!, nanti ketahuan pelatih!" seperti biasa dia memberiku bekal minuman dan buah dan aku meminumnya dengan buru-buru, sudah 2 minggu dia selalu memberiku minuman dan buah di tengah jalan, aku bersyukur mempunyai sahabat seperti dia, aku terus bertanya pada diriku sendiri, ada maksud apa di balik semua ini, sampai dia berjanji, di kejuaraan nanti dia yang akan mendampingi ku selalu memberi support (karena biasanya seorang lelaki memberikan support dan minuman kepada kekasihnya saat berlomba) , dia selalu berjanji dan terus berjanji, aku pun meng-iyakan nya

Pada suatu sore, dia bermain kerumahku sambil mendengar lagu lawas karangan Rita effendi, memang pada dasarnya mood ku sedang tidak bagus karena ayahku, aku pun mengusirnya dengan alasan aku ingin pergi kesuatu tempat, dia pun berkata "sebentar dulu yaa, sebentar lagi saja, aku masih ingin disini, lagunya belum habis, nanti pasti aku akan pulang", lalu memang aku yang sudah sangat kesal akhirnya aku menyuruhnya pulang, dan dia pun pulang sambil tertunduk. 2 hari sebelum kejuaraan, aku mendapat kabar sangat buruk dan benar-benar kaget, "BAHDIM WAFAT!!", aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, orang yang benar-benar sudah seperti saudaraku sendiri hilang begitu saja, begitu mudah dan begitu cepat, aku diceritakan kronologisnya oleh ibu nya, beliau bercerita katanya setelah berhujan-hujanan sambil bermain bola volly dia merasakan sakit perut yang hebat dan tiba-tiba hening begitu saja, ya.. begitu cepat dan hening, aku melihat badan tak bernyawa itu seraya tersenyum bahagia, orang yang bukan menjadi siapa-siapa untukku dan aku terlambat menyadari adanya suatu rasa yang tertinggal, aku menyia-nyiakan orang yang benar-benar tulus menyayangiku.

Tiba waktunya, kejuaraan pun akhirnya sudah di depan mata, semua orang berbahagia dan hanya aku yang mngingat suatu duka, aku melihat banyak lelaki memberi support penuh dan memberikan minuman kepada kekasihnya, dan kini apa yang aku dapat, seseorang yang memberiku semangat tambahan kini sudah berlari dengan bahagia di suatu tempat yang jauh, "ya... Aku juga sayang padamu", mungkin itu kata yang dia tunggu dari ucapanku yang mungkin bagiku hanya hal yang sepele, dia mengajarkanku bagaimana menggunakan parasut cadangan saat parasut utama gagal terbuka, dia sisik yang tulus untukku, ya.. dia sahabatku.. Bahdim.




Inspired by a true story, thanks mom to share this story to me :)
this story was dedicate to you mom.


Property of Chris Kurniawan

No comments:

Post a Comment