Amsterdam, 20 Desember 1987
Dingin menusuk tulangku, merasuk ke persendian dalam nadiku, aku berharap adikku yang masih kelas 5 SD dapat kesini dan merasakan indahnya pagi ini di Amsterdam, mataku tertuju pada surat baru yang ada di mailbox depan apartemen, tak salah ternyata dari Kasih, kekasih ku yang ada di jakarta selatan, kami memang suka berbalas surat.
Voorschoten, 3 Juli 1988
Hari ini adalah hari terakhirku di Amsterdam, hari dimana aku harus melaju ke 1 negara lagi di Asia, Inilah resiko-ku sebagai news hunter, berpergian tanpa henti sampai harus melupakan kekasihku, untuk bulan ini, tak ada 1 surat pun melayang ke mailbox apartemen, ahh sudah lah mungkin dia lupa.
Seoul, 5 Agustus 1989
Sekali lagi aku mengirimkan surat tak berbalas kepada Kasih, sudah 5 surat banyaknya, tak satupun dibalasnya, hanya 1 mau-ku, ingin tahu keadaan si pemilik senyuman buah cherry yang aku dambakan itu.
Gwangmyeong. Seoul, 16 September 1989
Pagi-pagi buta aku dibangunkan oleh penjaga apartemen, dia teriak kepadaku “seonsengnim, Indonesia euro pyeonji ga isseumnida” yang berarti Ada surat datang dari Indonesia, Aku membuka surat itu dan sedikit tersenyum, setelah membaca sampai habis, senyum diwajahku sedikit demi sedikit pudar, itu dari Kasih, Kasih dijodohkan dengan seseorang. Aku segera membalas dengan telegram, dengan kata-kata “Ke Jakarta aku koma kan kembali titik”.
Lebak bulus. Jakarta, 29 September 1989
Tak habis fikir aku pulang saat dia dinikahkan, aku berlari tanpa arah, hilang sudah semua angan bersama si pemilik senyuman buah cherry itu, dan lebih tak habis fikir lagi dia menikah dengan sahabat ayahku, bajingan yang memiliki 2 istri itu masih mengambil hak-ku, aku cuma bisa pasrah melihat dia menangis, ternyata tak semua cerita berakhir bahagia.
(aku mendedikasikan untuk Ibu ku, dan semua Ibu yang bisa menangis dikala hujan, "Tenanglah bu !, masih ada hari esok") :)
created by "ME"
No comments:
Post a Comment